Oleh: Joko Kastiwan

Sekjen Kementerian Agama Nur Syam mengajak mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) untuk menjadi agen moderasi agama. Ajakan ini disampaikan Nur Syam saat memberikan kuliah umum mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA). Kegiatan yang digagas Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UINSA ini mengangkat tema, ‘Perspektif Sosiologi Tentang Perkembangan Relasi Agama dan Politik di Indonesia’. “Saya ingin, mahasiswa UINSA menjadi agen untuk menggerakkan Moderasi Agama. Kita harus membangun kerukunan umat beragama,” kata Nur Syam di hadapan mahasiswa yang memadati Gedung Amphiteather Lt.2-3 Twin Tower UIN Sunan Ampel Surabaya, Jumat (03/11).

Ajakan itu disampaikan Menag menyusul temuan penelitian Badan Intelijen Negara (BIN), yang mengatakan bahwa 39% mahasiswa di Indonesia, telah terpapar paham radikal. Bahkan, ada tiga perguruan tinggi dinyatakan terindikasi menjadi basis penyebaran paham radikalisme.Data itu, lanjut Menag, sejalan dengan munculnya gerakan trans-nasional yang kerap mengusung idiologi khilafah Islamiyah dan menggunakan pendekatan radikalisme. “Gerakan trans nasional dengan idiologi radikal berkeinginan untuk mengganti dasar negara Pancasila dengan ideologi lain,” tegas Menag.

Di hadapan 5.000 peserta Pembukaan PW PTK XIV Tahun 2018, Menag menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa dalam perkemahan wirakarya, adalah bukti bahwa mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan bukan kelompok radikal. “PTK di bawah Kementerian Agama bukan kelompok radikal dan bukan basis penyebaran paham radikal,” katanya. “Saya yakin dan percaya keluarga besar sivitas akademika PTKI Kementerian Agama tidak ada satupun yang terlibat dalam kelompok radikal yang cenderung anti Pancasila dan NKRI,” lanjutnya.

Sebab, kata putra Mantan Menteri Agama Saifuddin Zuhri ini, sejak didirikan, khittah PTK adalah perguruan tinggi yang mengusung paham dan ajaran yang mengedepankan moderasi agama (wasathiyah). Menag meminta kepada generasi millineal untuk mengembangkan program dan kegiatan kepramukaan untuk merespon perkembangan information teknologi (IT) yang ditandai dengan munculnya bermacam media sosial.

“Kendatipun generasi millennial adalah penguasa dunia maya, namun tetap jangan sampai melupakan dunia nyata. Karena mereka bukan manusia yang hidup di menara gading,” tambah Menag.PW PTK akan berlangsung tanggal 3 – 10 Mei 2018. Kali ini, PW PTK bertempat di Bumi Perkemahan Sultan Syarif Kasim Riau dan 4 Desa sebagai tempat bhakti karya di Kabupaten Kampar dan Kota Pekanbaru.

“Kita tidak ingin Indonesia terpecah belah. Kita harus membangun Indonesia yang lebih baik. Karena kita adalah orang Indonesia yang beragama Islam,” sambungnya. Menurut Nur Syam, pemerintah terus mengupayakan agar pendidikan menjadi panglima dalam peningkatan SDM dan penguatan wawasan keagamaan mahasiswa. Mantan Dirjen Pendidiakn Islam ini berharap mahasiswa PTKN dapat memahami esensi dan substansi agama sehingga mampu mencegah diri dan masyarakat sekitarnya dari sikap terlalu ektrim, baik kiri atau kanan.

Sebelumnya, Kaprodi Sosiologi yang juga moderator kuliah umum, Amal Taufiq, menyampaikan bahwa relasi agama dan politik menjadi tema menarik khususnya di tahun politik. Namun, juga tidak bisa dipungkiri bahwa keduanya kerap menjadi dua kubu yang seolah terus dipertentangkan. Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 16.00 WIB ini ditutup dengan pemberian cinderamata berupa buku terbaru karya Prof. Nur Syam berjudul ‘Menjaga Harmoni Menuai Damai’ kepada Rektor UIN Sunan Ampel, Abd A’la. Sementara Nur Syam memperoleh cinderamata berupa buku karya Dekan FISIP UIN Sunan Ampel, Akh. Muzakki, berjudul ‘Eduspiring’. “Prof. Nur Syam adalah orang yang sangat luar biasa. Di tengah kesibukannya beliau masih bisa menyempatkan diri untuk terus menulis. Saya sendiri saja lebih sering keteteran. Aplaus untuk Prof. Nur Syam,” ujar Abd A’la. (Nur/Humas).

By Editor