Berasal dari kata reliability yang mempunyai asal kata rely dan ability, hasil estimasi reliabilitas harus dapat dipercaya di mana dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subyek yang sama akan diperoleh hasil yang relatif sama. Reliabilitas sebagai salah satu syarat instrumen agar dapat layak digunakan dalam suatu penelitian dapat diestimasi dengan beberapa cara yang akan dibahas selanjutnya.

Menurut Allen dan Yen  (dalam Mardapi, 2017), terdapat beberapa asumsi pada teori tes klasik yaitu:

  1. Instrumen hanya mengukur satu dimensi. Instrumen atau tes yang dirancang untuk menguji matematika, maka dimensi yang diukur juga hanya matematika. Teknik statistik yang dapat digunakan untuk mengetahui jumlah dimensi yang diukur adalah analisis faktor.
  2. Tidak ada hubungan antara skor murni dan skor kesalahan, dan dapat dinyatakan dengan simbol TE = 0
  3. Tidak ada hubungan antara kesalahan pada pengukuran pertama dengan kesalahan pada pengukuran kedua, dan dapat ditulis dengan simbol E1E2 = 0
  4. Tidak ada hubungan antara skor murni pada pengukuran pertama dengan kesalahan pada pengukuran kedua, dan dapat ditulis sebagai berikut: T1E2 = 0
  5. Tidak ada hubungan antara skor murni pada pengukuran kedua dengan kesalahan pada pengukuran pertama, dan dapat ditulis sebagai berikut: T2E1 = 0
  6. Rata-rata kesalahan pengukuran pada populasi adalah 0, atau E = 0

Dalam perhitungan menurut Teori Tes Klasik, terdapat beberapa metode untuk menentukan reliabilitas, antara lain sebagaimana dijelaskan di bawah ini.

1. Metode Tes Ulang (Test-Retest Method)

Metode test-retest ini merupakan pengukuran yang dilakukan dua kali dengan menggunakan suatu tes yang sama dengan waktu yang berbeda (Sudaryono, 2017). Sebagai contoh dapat diilustrasikan dalam gambar berikut ini.

Dalam ilustrasi di atas, misalkan Tes A adalah tes Fisika yang diberikan kepada kelompok siswa A yang merupakan siswa kelas XII IPA. Tes A tersebut akan diberikan kepada kelompok siswa yang sama namun di dua waktu yang berbeda, misalnya W1 dilaksanakan pada bulan Maret dan W2 dilaksanakan pada bulan Juni. Setelah diperoleh, hasil pertama dan kedua, maka kedua hasil tersebut dikorelasikan dengan korelasi produk momen untuk mengestimasi reliabilitas. Jika koefesien korelasinya tinggi, maka reliabilitasnya juga tinggi (Istiyono, 2020). Persamaan korelasi produk momen adalah sebagai berikut:

2. Metode Paralel/Ekuivalen

Metode paralel/ekuivalen atau alternate-form method merupakan metode paralel yang dilakukan dengan mengembangkan tes sejenis dengan kesamaan tujuan, tingkat kesukaran, bentuk, panjang, dan alokasi waktunya (Istiyono, 2020). Sebagai contoh dapat diilustrasikan dalam gambar berikut ini:

Dalam ilustrasi di atas, misalkan terdapat dua set tes, Tes A1 adalah tes Fisika set 1 dan Tes A2 adalah tes Fisika set 2. Kedua tes tersebut diberikan kepada kelompok siswa A yang merupakan siswa kelas XII IPA. Dua tes tersebut diberikan di dua waktu yang berbeda, misalnya W1 dan W2. Lalu hasil dua tes tersebut dikorelasikan agar dapat mengetahui skor reabilitas dari tes tersebut. Persamaan korelasi yang digunakan:

Selanjutnya…

By admin

Comments are closed.