Latar Belakang

Istilah pengukuran (measurement), pengujian (testing), penilaian (assessment), dan evaluasi (evaluation) sering disamakan, padahal masing-masing memiliki makna yang berbeda, hal ini dikarenakan pengukuran, penilaian, dan evaluasi terjadi pada satu proses yang sama. Penilaian merupakan proses memperoleh informasi mengenai karakteristik peserta didik atau individu yang diperoleh melalui serangkaian tes ataupun nontes yang dihasilkan berupa deskriptif secara kualitatif (Istiyono, 2020). Pengukuran merupakan serangkaian prosedur yang sistematis untuk menetapkan angka-angka mengenai karakteristik peserta yang telah dicapai (Mardapi, 2016). Sedangkan evaluasi adalah gabungan satu atau lebih proses (penilaian, tes, pengukuran) untuk memberikan keputusan terhadap suatu program.

Pengukuran yang baik harus mempunyai sifat isomorphism dengan realitas. Artinya bahwa terdapat kesamaan yang dekat antara realitas yang diteliti dengan nilai yang diperoleh dari pengukuran. Oleh karena itu, suatu instrumen pengukur dipandang baik apabila hasilnya dapat merefleksikan secara tepat realitas dari fenomena yang hendak diukur.

Skala pengukuran merupakan penentuan atau penetapan skala atas suatu variabel berdasarkan jenis data yang melekat dalam variabel penelitian. Skala pengukuran merupakan acuan atau pedoman untuk menentukan alat ukur demi memperoleh hasil data kuantitatif. Misalnya alat ukur panjang adalah meter, berat adalah kg, ton, kuintal dan sebagainya.

Pada dasarnya skala pengukuran dapat digunakan dalam berbagai bidang. Dengan menentukan skala pengukuran, maka nilai variabel yang diukur dengan instrumen tertentu dalam bentuk angka, sehingga akan lebih akurat, efisien dan komunikatif. Sebagai contoh, berat emas 19 gram, berat besi 100 kg, suhu badan orang yang sehat 37 derajat Celsius, IQ seseorang 150.

Tujuan pengukuran adalah menerjemahkan karakteristik data empiris ke dalam bentuk yang dapat dianalisis oleh peneliti. Titik fokus pengukuran adalah pemberian angka terhadap data empiris berdasarkan sejumlah aturan/prosedur tertentu. Prosedur ini dinamakan proses pengukuran yaitu investigasi mengenai ciri-ciri yang mendasari kejadian empiris dan memberi angka atas ciri-ciri tersebut.


Adapun komponen yang dibutuhkan dalam setiap pengukuran adalah sebagai berikut:

  • Kejadian empiris (empirical events). Kejadian empiris merupakan sejumlah ciri-ciri dari objek, individu, atau kelompok yang dapat diamati.
  • Penggunaan angka (the use of number). Komponen ini digunakan untuk memberi arti bagi ciri-ciri yang menjadi pusat perhatian peneliti. Spesifikasi tingkat pengukuran, kemudian, diberikan dengan memberi arti bagi angka tersebut.
  • Sejumlah aturan pemetaan (set of mapping rules). Komponen ini merupakan pernyataan yang menjelaskan arti angka terhadap kejadian empiris. Aturan-aturan ini menggambarkan dengan gamblang ciri- ciri apa yang kita ukur. Aturan-aturan pemetaan disusun oleh peneliti untuk tujuan studi.

Proses pengukuran dapat digambarkan sebagai sederet tahap yang saling berkaitan yaitu sebagai berikut:

  • Mengisolasi kejadian empiris. Aktivitas ini merupakan konsekuensi langsung dari masalah identifikasi dan formulasi. Intinya kejadian empiris dirangkum dalam bentuk konsep/konstruksi yang berkaitan dengan masalah penelitian.
  • Mengembangkan konsep kepentingan. Yang dimaksud dengan konsep dalam hal ini adalah abstraksi ide yang digeneralisasi dari fakta tertentu.
  • Mendefinisikan konsep secara konstitutif dan operasional. Definisi konstitutif mendefinisikan konsep dengan konsep lain sehingga melandasi konsep berkepentingan. Jika suatu konsep telah didefinisikan secara konstitutif dan benar, berarti konsep tersebut telah siap untuk dibedakan dengan konsep lain.

Konsep Pengukuran

Definisi pengukuran menurut Allen & Yen adalah “Measurement is the assigning of numbers to individuals in a systematic way as a means of representing properties of the individuals” dalam terjemahannya pengukuran adalah penetapan angka dengan cara sistematik untuk menyatakan keadaan individu atau obyek (Allen & Yen, 1979). Keadaan individu yang dimaksut adalah berupa kognitif, afektif dan psikomotor. Kemampuan kognitif merupakan aspek tentang pengetahuan seperti bahasa, matematika, sejarah, agama, dan lain sebagainya. Kemampuan afektif berkaitan dengan perilaku seperti sikap, minat, etika, dan lain sebagainya sedangkan kemampuan psikomotor merupakan kemampuan gerak. Sistematik berarti kegiatan pengukuran yang dilakukan melalui suatu prosedur tertentu atau aturan tertentu sehingga hasil pengukuran keadaan obyek yang sama, walau tempat dan waktu yang berbeda akan memberikan hasil pengukuran yang sama (Istiyono, 2020)

Makna pengukuran yang disampaikan oleh Istiyono adalah proses pemberian label atau angka dari suatu obyek yang diukur, dalam arti lain pengukuran adalah proses memperoleh data numerik dari suatu tindakan yang dicapai seseorang. Pengukuran berfokus bagaimana caranya untuk mencari atau menentukan nilai kuantitatif dari suatu obyek/karakteristik, dengan demikian pengukuran dalam bidang pendidikan berarti mengukur atribut atau karakteristik pesera didik. Berdasarkan definisi para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa proses pengukuran memiliki dua karakteristik yaitu yang pertama ialah pemberian atau penentuan angka dari suatu karakter yang telah di ukur yang kedua ialah adanya suatu aturan secara sistematis. Untuk mendapatkan angka dari suatu obyek yang diukur maka diperlukan alat ukur atau instrumen. Syarat instrume yang baik ialah valid dan reliabel.

Pengukuran dapat dilakukan secara tes (aspek kognitif) dan non tes (aspek afektif dan psikomotorik). Bentuk tes pada aspek kognitif dapat berupa tes objektif seperti pilihan ganda, benar salah, dan lain sebagainya, bentuk tes non objektif adalah tes uraian.

Sedangkan bentuk non tes pada aspek afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat sikap dan emosi yang dikemas dalam bentuk kuisioner. Bentuk non tes pada aspek psikomotor dapat berupa laporan proyek dan lain sebagainya.

Kedudukan antara pengukuran, penilaian dan evaluasi berdasarkan skema di bawah ini ialah kegiatan penentuan angka dari suatu obyek yang diukur disebut sebagai hasil dari proses pengukuran. Pengukuran dapat dilakukan secara tes maupun non tes, apabila melakukan pengukuran secara berulang-ulang dan mendapati beberapa hasil dari proses pengukuran kemudian dapat ditarik kesimpulannya maka disebut sebagai penilaian atau assessment, kemudian gabungan dari beberapa hasil di atas untuk memberikan keputusan terhadap suatu program maka disebut sebagai evaluasi.

Jenis Data Menurut Hasil Pengukuran

1. Nominal

Skala nominal merupakan skala yang hanya mendasarkan pada pengelompokan atau pengkategorian peristiwa atau fakta dan apabila menggunakan notasi angka hal itu sama sekali tidak menunjukkan perbedaan kuantitatif melainkan hanya menunjukkan perbedaan kualitatif. Irianto (2015) menyebut bahwa skala nominal adalah skala yang ditetapkan berdasarkan atas proses penggolongan yang bersifat diskrit dan saling pilah (mutually exclusive). Banyak variabel dalam penelitian sosial menggunakan skala nominal seperti agama, jenis kelamin, tempat lahir, asal sekolah, dsb. Untuk itu skala nominal mempunyai sifat:

  1. Kategori data bersifat mutually exclusive(saling memisah),
  2. Kategori data tidak mempunyai aturan yang logis (bisa sembarang).

Skala nominal merupakan skala yang paling sederhana disusun menurut jenis (katagorinya) atau fungsi bilangan hanya sebagai simbol untuk membedakan sebuah karakteristik lainnya. Skala nominal merupakan skala yang paling lemah/rendah di antara skala pengukuran yang ada. Skala nominal hanya bisa membedakan benda atau peristiwa yang satu dengan yang lainnya berdasarrkan nama (predikat). Skala pengukuran nominal digunakan untuk mengklasifikasi objek, individual atau kelompok dalam bentuk kategori. Pemberian angka atau simbol pada skala nominal tidak memiliki maksud kuantitatif hanya menunjukkan ada atau tidaknya atribut atau karakteristik pada objek yang diukur.

Misalnya, jenis kelamin diberi kode 1 untuk laki-laki dan kode 2 untuk perempuan. Angka ini hanya berfungsi sebagai label. Kategori tanpa memiliki nilai intrinsik dan tidak memiliki arti apa pun. Kita tidak bisa mengatakan perempuan dua kali dari laki-laki. Kita bisa saja mengkode laki-laki menjadi 2 dan perempuan dengan kode 1, atau bilangan apapun asal kodenya berbeda antara laki-laki dan perempuan. Misalnya lagi untuk agama, kita bisa mengkode 1 = Islam, 2 = Kristen, 3 = Hindu, 4 = Budha, dst. Kita bisa menukar angka-angka tersebut, selama suatu karakteristik memiliki angka yang berbeda dengan karakteristik lainnya. Karena tidak memiliki nilai intrinsik, maka angka-angka (kode-kode) yang kita berikan tersebut tidak memiliki sifat sebagaimana bilangan pada umumnya.

Oleh karenanya, pada variabel dengan skala nominal tidak dapat diterapkan operasi matematika standar (aritmatik) seperti pengurangan, penjumlahan, perkalian, dan lainnya. Peralatan statistik yang sesuai dengan skala nominal adalah proposisi seperti modus, distribusi frekuensi, Chi Square dan beberapa peralatan statistik non-parametrik lainnya.

Ciri-ciri skala nominal:

  • Hasil penghitungan tidak dijumpai bilangan pecahan,
  • Angka yang tertera hanya label saja,
  • Tidak mempunyai urutan (ranking),
  • Tidak mempunyai ukuran baru,
  • Tidak mempunyai nol mutlak,
  • Tes statistik yang digunakan adalah statistik non parametrik

Contoh Skala nominal sebenarnya (tampak) :

  • Jenis kulit : Hitam Kuning Putih
  • Suku Daerah : Jawa Madura Bugis
  • Agama yang dianut : Islam Kristen Hindu
  • Partai pemenang pemilu : Golkar Demokrat PKB
  • Jenis kelamin : Laki Perempuan
  • Jenis Pekerjaan : PNS Swasta Tani dll
  • Status Perkawinan : Kawin Tidak Kawin

Contoh Skala nominal yang tidak sebenarnya (laten) :

  • Kelulusan : Lulus Tidak Lulus
  • Ijazah yang dipunyai : SD SMP SMA S1 S2 S3
  • Tahun Produksi Kendaraan : 2004 2005 2006 2007
  • Aktivitas : Bekerja Menganggur

Selanjutnya skala ordinal..



By Editor