Oleh: Diaz Gandara Rustam

Beberapa pesantren modern menerapkan praktik moderasi agama di lembaganya berbeda dengan model penerapan di pesantren klasik. Pesantren modern lebih menekankan pada pembenahan kurikulum, sistem pembelajaran, tenaga pengajar serta santri itusendiri. Dari aspek kurikulum, materi yang difokuskan memang padapembelajaran agama namun tidak menafikan pelajaran umumlainnya. Pesantren jenis ini yang mengkombinasikan antara pesantren tradisional dan juga model pendidikan formal dengan mendirikan satuan pendidikan semacam SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA bahkan sampai pada perguruan tinggi.

Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum pesantren salaf yang diadaptasikan dengan kurikulum pendidikan Islam yang disponsori oleh Departemen Agama dalam sekolah (Madrasah). Sedangkan kurikulum khusus pesantren dialokasikan dalam muatan lokal atau mungkin diterapkan melalui kebijaksanaan sendiri. Gambaran kurikulum lainnya adalah pada pembagian waktu belajar, yaitu mereka belajar keilmuan sesuai dengan kurikulum yang ada di perguruan tinggi (madrasah) pada waktu kuliah. Sedangkan waktu selebihnya dengan jam pelajaran yang padat dari pagi sampai malam untuk mengkaji keilmuan islam khas pesantren (pengajian kitab klasik).

Kurikulum pendidikan pesantren modern yang merupakan perpaduan antara pesantren salaf dan sistem sekolah diharapkan akan mampu memumculkan output pesantren berkualitas yang tercermin dalam sikap aspiratif, progresif dan tidak “ortodok”, sehingga santri bisa secara cepat dan beradaptasi dalam setiap bentuk perubahan peradaban dan bisa diterima dengan baik oleh masyarakat, karena bukan golongan ekslusif dan memiliki kemampuan yang siap pakai. Sebagai wujud mengokohkan dan menguatkan peran pesantren dalam menangkal radikalisme dan ekstrimisme perlu adanya internalisasi moderasi beragama dalam kurikulum pesantren.

Hal ini bertujuan untuk menengahi kedua kutub ekstrem ini, dengan menekankan pentingnya internalisasi ajaran agama secara substantif di satu sisi, dan melakukan kontekstualisasi teks agama di sisi lain. Bentuk internalisasi dalam kurikulum pesantren yaitu pada hidden curriculum (kurikulum tersembunyi) dan core kurikulum (kurikulum inti). Pada hidden curriculum menjadi efek penggiring terhadap materi pelajaran. Dalam pengembangannya, kurikulum tersembunyi memainkan peran dari segi afektif pendidik yang ditiru/dijadikan contoh dan mengandung pesan moral serta niai-nilai positif yang berkenaan dengan moderasi beragama. Misalnya dalam indicator moderasi beragama terdapat 4 hal; 1) komitmen kebangsaan; 2) toleransi; 3) antikekerasan; dan 4) akomodatif terhadap kebudayaan lokal.14 Pada sikap toleransi, santri selalu disertai dengan sikap hormat, menerima orang yang berbeda sebagai bagian dari diri kita, dan berpikir positif.

Implementasinya pada saat pelaksanaan pembelajaran berlangsung, pendidik berusaha memadukan materi pembelajaran dengan nilai-nilai atau pesan-pesan moral dengan konteks moderasi beragama. Core curriculum merupakan kurikulum yang memuat pengetahuan umum untuk semua santri sebagai pengalaman belajar. Konten atau materi pembelajaran memang diarahkan untuk membentuk karakter moderat bagi santri. Hal tersebut secara tersurat diajarkan dalam setiap materi yang berhubungan langsung dengan pembentukan karakter santri yang moderat.

Hal ini juga tidak jauh beda dengan pelaksanaan dalam kurikulum tersembunyi, yaitu dalam pelaksanaannya harus diawali pendidik terlebih daluhu, karena pendidik sebagai role model, yaitu pendidik senantiasa dituntut menjadi sebuah model dalam pendidikan karakter dan penanaman nilai-niai moral. Moderasi beragama dimasukkan dalam materi sebagaibahan ajar yang diintegrasikan dengan pendidikan multikultural, yaitu menurut Ainurrafiq Dawam adalah proses pengembangan seluruh potensi manusia yang menghargai pluralitas, dan heterogenitasnya sebagai konsekuensi keragaman budaya, etnis, suku dan aliran (agama).

Dengan begitu, lembaga pendidikan pesantren mampu berperan berperan dalam menyiapkan seperangkat pengetahuan praktis tentang moderasi beragama di dalam kurikulum dan setiap akademisi akan memiliki acuan nilai yang eksplisit. Hal ini penting untuk dicapai karena memiliki sikap moderat bagi santri sebagai sebuah keharusan dalam meminimalisir dampak negatif dari bahaya radikalisme di pesantren. Tidak hanya santri yang moderat tapi juga melaui santri peningkatan dan keseimbangan anatara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik dan memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak bersama dengan kebhinekaan (plurality) di lingkungan masyarakat. Perbedaan pesantren tradisional dengan pesantren modern dapat diidenfifikasi dari perpespektif manajerialnnya.Pesantren modern telah dikelola secara rapi dan sistematis dengan mengikuti kaidah-kaidah manajerial yang umum.

By admin