Teori tes klasik mengembangkan model pengukuran untuk menaksir besarnya parameter kemampuan dan parameter butir (Mardapi, 2017). Parameter kemampuan dinyatakan sebagai jumlah butir yang benar untuk bentuk soal pilihan, atau jumlah skor untuk bentuk uraian. Parameter butir adalah tingkat kesulitan soal, daya beda soal dan dugaan. Lebih lanjut Istiyono (2020) memaparkan tiga parameter butir dalam teori tes klasik yaitu daya beda, indeks kesukaran dan efektivitas distraktor.

1. Daya Beda

Daya beda (diskriminasi) suatu butir tes adalah kemampuan suatu butir untuk membedakan antara peserta tes yang berkemampuan tinggi dan berkemampuan rendah (Istiyono, 2020). Daya beda juga dapat dijelaskan sebagai derajat hubungan antara skor butir dengan skor total dengan menggunakan Teknik korelasi product moment dari Pearson.
Adapun fungsi dari daya pembeda adalah mendeteksi perbedaan individual yang sekecil-kecilnya diantara para peserta tes. Penentuan daya beda butir biasanya dilakukan dengan menggunakan indeks korelasi, diskriminasi dan indeks keselarasan item. Dari ketiga cara tersebut yang paling sering digunakan adalah indeks korelasi.

Ada empat macam Teknik korelasi yang biasa digunakan untuk menghitung daya beda, yaitu teknik point biserial, teknik biserial, teknik phi dan teknik tetrachoric. Indeks daya beda juga dapat ditentukan menggunakan rumus korelasi biserial. Korelasi biserial berbeda dengan korelasi point biserial baik secara teori maupun perhitungan, meskipun kedua teknik ini dapat diinterpretasikan dengan cara yang sama.

Indeks daya pembeda setiap butir soal biasanya juga dinyatakan dalam bentuk proporsi di mana semakin tinggi indeks daya pembeda soal berarti semakin mampu soal yang bersangkutan membedakan peserta didik yang telah memahami materi dengan peserta didik yang belum memahami materi. Indeks daya pembeda berkisar antara -1,00 sampai dengan +1,00. Semakin tinggi daya pembeda suatu soal, maka semakin baik soal itu. Jika daya pembeda negatif berarti lebih banyak kelompok bawah atau peserta didik yang tidak memahami materi yang menjawab benar soal dibanding dengan kelompok atas atau yang memahami materi.
Untuk mengetahui daya pembeda butir soal berbentuk pilihan majemuk setara digunakan persamaan:

Keterangan:
DP = Daya pembeda soal
BA = Jumlah jawaban benar pada kelompok atas
BB = Jumlah jawaban benar pada kelompok bawah
N = Peserta didik yang mengerjakan tes

Selain persamaan di atas, untuk mengetahui daya pembeda soal bentuk pilihan majemuk juga dapat menggunakan rumus korelasi point biserial (r pbis) dan korelasi biserial (r bis) yang ditunjukkan dalam persamaan berikut:

Keterangan:
Xb Yb = rata-rata skor peserta didik yang menjawab benar
Xs Ys = rata-rata skor peserta didik yang menjawab salah
SD = simpangan baku skor total
nb, ns = jumlah peserta didik yang menjawab benar dan jumlah peserta didik yang menjawab salah, serta nb+ns= n
p = proporsi jawaban benar terhadap semua jawaban peserta didik
q = proporsi jawaban salah terhadap semua jawaban peserta didik
u = ordinat kurva normal

Untuk mengetahui daya pembeda soal bentuk uraian adalah dengan menggunakan persamaan berikut:

Keterangan:
Ma = mean kelompok atas
Mb = mean kelompok bawah
Xmsx = skor maksimum soal

Hasil perhitungan dengan menggunakan persamaan di atas dapat menggambarkan tingkat kemampuan soal dalam membedakan antara peserta didik yang sudah memahami materi yang diujikan dengan peserta didik yang belum atau memahami materi yang diujikan. Mardapi (2017) menjelaskan bahwa butir yang diterima harus memiliki indeks daya beda > 0,3 sedangkan butir dengan indeks daya beda kurang dari antara 0,1 sampai 0,3 perlu direvisi dan jika daya bedanya < 0,1 maka butir tersebut tidak diterima. Sedangkan Ebel dan Frisbie dalam Istiyono (2020) memberikan patokan indeks daya beda sebagai berikut:

Tabel 1. Indeks daya beda

Indeks daya

Status butir

> 0,40

Butir yang sangat baik

0,30 – 0,39

Sedikit atau tidak memerlukan revisi

0,20 – 0,29

Butir memerlukan revisi

< 0,19

Butir harus dieliminasi

2. Indeks Kesukaran

Allen dan Yen (2001) menyatakan bahwa indeks kesukaran adalah proporsi peserta ujian yang menjawab benar. Dalam definisi lain, Azwar (2003) menyatakan bahwa indeks kesukaran butir adalah rasio penjawab butir dengan benar dan banyaknya penjawab butir. Proporsi menjawab benar p (proportion correct) adalah indeks kesukaran soal yang paling sederhana dan sering digunakan dalam menentukan besaran indeks.

Pada prinsipnya, proporsi jumlah peserta menjawab benar pada suatu butir terhadap jumlah peserta tes dinamakan tingkat kesukaran butir soal. Rumus ini dipergunakan untuk soal objektif adalah sebagai berikut:

TK = B/N

Keterangan :
TK = Tingkat kesukaran Butir
B = Jumlah peserta didik yang menjawab benar
N = Jumlah peserta didik

Fungsi tingkat kesukaran butir soal biasanya dikaitkan dengan tujuan tes. Misalnya untuk keperluan ujian semester digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran sedang untuk keperluan seleksi digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran tinggi, dan untuk keperluan diagnostik biasanya digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran mudah. Untuk mengetahui tingkat kesukaran soal bentuk uraian, digunakan persamaan berikut:

M = Σ??/?

Keterangan:
M = Mean atau rata-rata skor
X = skor peserta didik ke-k
N = jumlah peserta didik

TK=    M / ????

Keterangan:
TK = Tingkat kesukaran
M = Mean
Xmax = Skor maksimum yang diterapkan

Hasil perhitungan dengan menggunakan persamaan di atas menggambarkan tingkat kesukaran soal dengan klasifikasi sebagaimana tercantum dalam tabel di bawah ini:

Tabel 2. Tingkat kesukaran soal

Tingkat Kesukaran

Predikat Soal

0,00-0,30

Sukar
0,31-0,70

Sedang

0,71-1,0

Mudah

Sumber: Istiyono (2020)

3. Efektivitas Distraktor

Menurut Sudijono dalam Istiyono (2020), efektivitas distraktor adalah seberapa baik pilihan yang salah dapat mengecoh peserta tes yang tidak mengetahui kunci jawaban yang tersedia. Semakin banyak peserta tes yang memilih distraktor tersebut, maka distraktor itu dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Cara menganalisis fungsi distraktor dapat dilakukan dengan menganalisis pola penyebaran jawaban butir. Pola penyebaran jawaban adalah suatu pola yang dapat menggambarkan bagaimana peserta tes dapat menentukan pilihan jawabannya terhadap kemungkinan-kemungkinan jawaban yang telah dipasangkan pada setiap butir.

Fernandes dalam Istiyono (2020) menyatakan bahwa distraktor dikatakan baik jika dipilih oleh minimal 2% dari seluruh peserta. Distraktor yang tidak memenuhi kriteria tersebut sebaiknya diganti dengan distraktor lain yang mungkin lebih menarik minat peserta tes untuk memilihnya.

Efektivitas distraktor-distraktor dari suatu butir tes ditelaah untuk mengetahui apakah semua distraktor atau pilihan jawaban yang bukan merupakan kunci telah berfungsi sebagaimana mestinya, di mana distraktor-distraktor tersebut telah dipilih oleh lebih banyak atau semua peserta tes dari kelompok yang berkemampuan rendah sedangkan peserta tes dari kelompok yang berkemampuan tinggi hanya sedikit atau tidak ada yang memilihnya. Efektivitas distraktor dilihat dari dua kriteria, yaitu distraktor dipilih oleh peserta tes dari kelompok yang berkemampuan rendah, dan pemilih distraktor tersebar relatif proporsional pada masing-masing distraktor.

Tabel 3. Predikat efektivitas distraktor

Predikat

Kondisi

SB (sangat baik)

dipilih secara merata oleh peserta tes
B (baik)

dipilih sedikitnya oleh 5% peserta tes

TB (tidak baik)

lebih banyak dipilih oleh kelompok atas atau

tidak dipilih

Selanjutnya Validitas pada Teori Tes Klasik…

By Editor

Comments are closed.