Oleh: Diaz Gandara Rustam

Idealnya sebuah pesantren terutama yang hidup di Indonesia, mengajarkan pada peserta didiknya nilai-niai etika Islam yang selaras dengan kondisi masyarakatnya yang hidup heterogen. Sehingga pesantren mampu mencetak lulusan-lulusannya yang mampu berfikir dan bertindak moderat yang mengarahkan pada sikap inklusif, toleran serta humanis sebagai hasil pemahaman mendalam tentang etika Islam. Pendidikan di pesantren mengajarkan materi tentang agama Islam secara komperhensif, diantaranya meliputi aspek aqidah (keimanan), syariah (ibadah) dan akhlak (etika).

Pengajaran tentang materi-materi agama Islam tersebut selama ini diberikan dengan baik, artinya peserta didik tidak hanya fokus pada pemahaman teks-teks keagamaan an sich, namun mereka juga didorong untuk mampu menyesuaikan pemahamannya dengan kondisi sosio-historis Islam yang ada di Indonesia sehingga menjadikan lulusan pesantren berwajah etis dan berwawasan moderat. Namun akhir-akhir ini terdapat beberapa pesantren yang dalam pengajarannya tidak menghiraukan realitas kehidupan masyarakat Islam di Indonesia sehingga lulusannya cenderung bersikap radikal akibat dari pemahaman keagamaannya.

Maka dari sini perlu adanya pengembangan kurikulum pesantren terutama mengenai pembelajaran etika Islam secara mendalam sehingga mampu menangkap nilai-nilai moderasi di dalam etika Islam. Dalam teori pengembangan kurikulum terdapat beberapa macam pendekatan, salah satunya yaitu pendekatan bidang studi dan pendekatan rekonstruksionisme. Pendekatan bidang studi menfokuskan mata pelajaran sebagai dasar organisasi kurikulumnya sehingga mengutamakan pada penguasaan bahan dalam disiplin ilmu tertentu.

Sedangkan pendekatan rekonstruksionisme atau disebut juga pendekatan rekonstruksi sosial mengutamakan pada permasalahan-permasalahan yang terjadi di masyarakat yang penting untuk segera diperbaiki, misalnya terkait dengan keadilan, hak asasi manusia, konflik dan perdamaian dan lain-lain, sehingga dalam pembelajarannya mengutamakan pemecahan masalah (problem solving) dengan berbagai disiplin ilmu.

Adapun langkah-langkah dalam pengembangan kurikulum etika Islam dapat melalui tahap-tahap berikut ini: (1) Melakukan kajian kebutuhan (needs assessment) Kurikulum yang hendak dikembangkan terkait dengan etika Islam. Aspek ini penting untuk dipelajari secara luas dan mendalam sebab pemahaman santri terhadap aspek yang lain, mencakup akidah (keimanan) dan syariah (ibadah) perlu dibarengi dengan penanaman etika yang mendalam sehingga santri benar-benar memahami realitas masyarakat Islam di Indonesia sehingga mampu menyesuaikan pandangannya sesuai dengan wajah Islam Indonesia. Selama ini Islam radikal cenderung memaksakan keyakinan dan penerapan hukum agama sesuai yang dipahaminya tanpa menghiraukan kondisi sosio-historis masyarakat yang ada sehingga sering terjadi konflik antar kelompok dan golongan yang menyebabkan renggangnya kerukunan dalam beragama. Disinilah pentingnya pendalaman etika Islam sehingga mampu memahami nilai-nilai moderasi yang ada di dalamnya yang sesuai dengan wajah Islam Indonesia. (2) Menentukan mata pelajaran yang akan diajarkan Pelajaran etika Islam biasanya tercakup dalam mata pelajaran akhlak. Di sini pesantren harus mampu memilih dan memilah antara buku-buku etika yang mengarahkan santri untuk memahami etika Islam yang berwawasan moderat, sebab beberapa penelitian yang ada mengungkap adanya pembelajaran etika yang mengarahkan santri menjadi radikal. Seharusnya materi etika Islam yang diberikan sebagaimana yang selama ini diajarkan di pondok-pondok pesantren yang berhaluan moderat, seperti taysir al-khalaq, wasaya, budayat al-hidayah, ihya’ ulum al-din, dan lain-lain. Pemahaman yang mendalam tentang etika Islam dalam referensi- referensi di atas akan mengkonstruk pemahaman seseorang tentang bangunan etika Islam secara utuh sehingga bisa memahami sisi moderasi yang ada di dalamnya. (3) Merumuskan tujuan pembelajaran Adapun tujuan dari pendalaman materi etika Islam melalui kitab- kitab di atas adalah membentuk pemahaman santri yang mendalam dan menyeluruh tentang etika Islam sehingga mampu berfikir dan bertindak dari pemahaman keagamaannya sesuai dengan kondisi sosio-historis masyarakat yang ada. Dari situ maka akan menjadikan santri berwawasan moderat yang mempunyai karaktek humanis, toleran dan juga inklusif yang sesuai dengan wajah Islam Indonesia yang rahmat lil al-‘alamin. (4) Menentukan strategi belajar mengajar Strategi belajar mengajar yang digunakan bisa menggunakan beberapa bentuk sebagaimana yang khas dilakukan di pesantren, misalnya sistem klasikal, sorogan, bandongan dan musyawarah.

Penggunaan sistem pembelajaran tersebut biasanya menyesuaikan jenis pesantren, misalnya pesantren salafiyah, khalafiyah dan kombinasi. Untuk kitab-kitab etika Islam yang pembahasannya ringkas maka bisa menggunakan sistem klasikal atau sorogan sehingga bisa diselesaikan dengan target waktu tertentu. Sedangkan kitab-kitab etika yang berupa kitab-kitab induk maka bisa dengan sistem bandongan dan musyawarah.

Dalam sistem bandongan biasanya tidak ditentukan lama pembelajarannya, sebab disini kiai atau guru menjadi sentral dalam pembelajarannya. Dalam sistem ini juga membutuhkan interpretasi dari guru mengenai teks yang dibaca sehingga membutuhkan kemampuan guru yang mumpuni, baik dalam aspek pemahaman bahasa dan juga pemahamannya megenai kondisi sosio-historis masyarakatnya sehingga tepat dalam memaknai realitas.

Sedangkan sistem musyawarah juga penting untuk dilakukan untuk mendalami kitab-kitab induk, sekaligus menghadirkan problem-problem yang terjadi di masyarakat sehingga mampu memberikan solusi dengan mempertimbangkan kondisi masyarakat yang ada. Dalam sistem ini juga membutuhkan kemampuan disiplin ilmu yang lain, misalnya ilmu gramatikal arab dan juga ushul fiqih untuk memutuskan sebuah hukum.

Dari beberapa sistem pembelajaran di atas menawarkan interaksi yang seimbang antara guru dan murid. Dalam sistem klasikal dan bandongan berpusat pada guru (teacher centered), sedangkan sistem sorogan dan musyawaroh berpusat pada murid (student centered). Dari sistem ini diperoleh aspek demokratis, toleran, fleksibel dan dinamis dalam pendidikan sehingga tidak ada unsur pemaksaan yang mengarahkan pada pemahaman yang kaku dan jumud.

Tugas pesantren pada dasarnya harus melakukan perubahan sosial dan transfer keilmuan yang membantu tatanan kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Perubahan sosial yang dimaksud ialah berupaya menjadi garda paling depan dalam membidani persoalan-persoalan yang tengah dihadapi masyarakat secara umum, selain juga terus menerus menanamkan nilai-nilai moral sebagai pijakan dalam mengarungi derasnya persaingan hidup yang semakin kompleks.

By admin