Oleh: Diaz Gandara Rustam

Akhir-akhir ini kehidupan umat beragama di Indonesia mengalami dinamika yang cukup keras. Terutama karena munculnya kasus-kasus radikalisme dan terorisme yang berlatarkan pemahaman dan ideologi agama. Padahal pemerintah Indonesia telah menerbitkan berbagai macam peraturan perundang-undangan yang mengatur tata kehidupan beragama yang harmonis. Maraknya aksi radikalisme dan terorisme tersebut telah menempatkan umat Islam yang dipersalahkan.

Menurut Yenny Wahid bahwa masyarakat yang terpapar ekstremisme dan radikalisme di Indonesia, mencapai 7,7 persen dari total populasi penduduk yang lebih dari 200 juta jiwa. Jumlah terdampak yang cukup besar ini memahami ajaran jihad secaraliterlik, yaitu perang. Bahkan mereka membenarkan danmendukung tindakan dan gerakan radikal, mencakup pemberiandana, materi sampai melakukan penyerangan terhadap rumahagama. Padahal jihad tidak hanya soal perang, sebagaimana didapati di beberapa hadis, jihad adakalanya berbentuk ibadahhaji, bersungguh mencari keridhaan Allah swt., bersabar menahanhawa nafsu, berkata yang benar di hadapan penguasa dst. Dan dari sekian makna jihad, justru menjaga dan mengalahkan hawanafsu dalam diri dapat dikatakan lebih sulit dari berjuangmenghadapi musuh yang nyata dalam peperangan.

Fakta Pluralitas sebagai Basis Moderasi Beragama Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Penduduknya terdiri dari beragam suku, etnis (sub-etnis), bahasa, bahkan agama dan aliran kepercayaan. Berdasarkan data Sensus Penduduk tahun 2010, yang merupakan sebuah proses pencatatan, perhitungan, dan publikasi data demografis yang dilakukan terhadap semua penduduk yang tinggal menetap di suatu wilayah tertentu, struktur dan komposisi penduduk Indonesia menurut suku bangsa menurut Sensus Penduduk 2010 menempatkan Suku Jawa sebagai suku terbesar dengan populasi 85,2 juta jiwa atau sekitar 40,2 persen dari populasi penduduk Indonesia. Kemudian disusul Suku Sunda dengan jumlah 36,7 juta jiwa atau 15,5 persen. Kemudian Suku Batak di posisi ketiga dengan jumlah 8,5 juta jiwa atau 3,6 persen. Disusul Suku asal Sulawesi selain Suku Makassar, Bugis, Minahasa, dan Gorontalo.

Latar belakang bangsa Indonesia yang multikultural menjadikan moderasi Agama sebagai sebuahkeharusan dalam menjaga persatuan dan kesatuan.Dalam konteks kekinian, Pesantren mampumemerankan diri sebagai benteng pertahanan dariimperialisme budaya yang begitu kuat mewarnaikehidupan masyarakat, khususnya di perkotaan.Perkembangan pesantren dengan sistem pendidikannyamampu menyejajarkan diri dengan pendidikan padaumumnya. Merujuk pada Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, posisi dankeberadaan pendidikan Pesantren memiliki tempat yang sama dengan pendidikan umum lainnya tanpa dikotomi.Ia merupakan bagian dari Sistem Pendidikan Nasional.

Pesantren adalah embrio pendidikan Islam yang telah lamamengakar di bumi Nusantara. Pesantren merupakan salah satu lembagapendidikan Islam khas di Indoensia yang memiliki reputasi global dalam mencetak manusia yang memiliki keseimbangan otak dan hati. Pesantren sebagai salah satu aset bangsa perlu dimaksimalkan perannya terutama dalam pembentukan watak moderasi yang menjadi penentu keberlanjutan sistem kerukunan etnis dan agama di Indonesia.

Belakangan ini, seringkali banyak ditemukanmunculnya situasi perbedaan dan perdebatan yangterjadi di kalangan masyarakat. Salah satu contohnyaadalah seringkali terjadi kekerasan, kerusuhan hinggabahkan kasus pertikaian antar masyarakat dan yanglebih mengenaskan lagi kejadian tersebut hanyaseringkali dilatar belakangi ketidak tahuan dan ketidaksadaran mereka serta kesalah pahaman antara dua belahpihak dan ada pula yang dilatar belakangi oleh kepentingan politik semata.

Oleh karena itu lahir danadanya pesantren seharusnya menjadi wadah utama danmenjadi suri tauladan bagi masyarakat dalammenanggulangi situasi seperti itu. Disinilah peran pesantren menjadi benteng agama, budaya dan sosial dipertaruhkan. Bahkan pesantren diharapakan sebagai institusi yang memiliki basis kekuatan “Indegeanous cultural” atau bentuk kebudayaan asli dari kekayaan agama dan budaya. Menghahadapi era revolusi industri 4.0, tantangan yang akan terus dihadapi pesantren adalah bermetamorfosis menjadi lembaga yang memiliki fungsi transformasi kultural baik dari dunia realitas maupun dunia maya.

By admin