Oleh: Diaz Gandara Rustam

Kebutuhan terhadap fatwa yang moderat dalam kasus covid 19 sangat vital karena bisa berdampak pada kegiatan rutinas ibadah di masjid atau rutinitas keseharian umat Islam seperti bekerja, bersekolah, kegiatan perkuliahan, pelayanan terhadap masyarakat dan lain sebagainya. Sebagian umat Islam masih ada yang tidak melaksanakan dan menjalankan fatwa ulama dan anjuran pemerintah dalam menghadapi covid 19.

Sebagian orang itu tetap memaksakan untuk salat berjamaah di masjid ataupun melaksanakan salat jumat di masjid dengan menganggap bahwa salat di masjid itu lebih utama karena mengutamakan ibadah kepada Allah swt. Mereka juga beranggapan bahwa covid 19 itu tidak perlu ditakuti dan kewajiban kepada Allah swt tetap harus diprioritaskan dengan beribadah berjamaah di masjid. Untuk itu, umat yang beranggapan seperti itu perlu membekali dirinya dengan belajar kembali tentang fikih-fikih seputar pandemi.

Hukum Islam itu pada dasarnya memiliki ruang yang sangat fleksibel. Ketika bahaya mengintai dan membahayakan orang lain, ibadah yang dilakukan secara normal dapat berubah.(Saenong, 2020: 6-7) Jika tidak memungkinkan dilaksanakan di masjid, sebaiknya dilakukan di rumah saja. Fikih harus upgrade secara aktual dan kontekstual tanpa mengabaikan fikih yang konvensional. Covid 19 menjadi pandemi yang mengglobal, dibutuhkan fikih pandemi yang mengatur ibadah umat Islam pada masa wabah seperti ini.

Pelaksanaan salat jumat wajib bagi umat Islam lebih khusu laki-laki yang sehat, berakal dan tidak terhalang uzur syar’i serta tidak dalam perjalanan (muqim). Akan tetapi, kewajiban jumat menjadi gugur ketika ada uzur seperti hujan lebat atau wabah yang melanda. Orang yang terpapar atau terindikasi covid 19 tidak boleh menghadiri salat jumat. Hadis Nabi menjadi argumentasi dalam hal itu: Allah dan Rasulullah dalam penetapan hukum agama. Maslahat esensial adalah jenis maslahat tertinggi yang dikehendaki Syari‘ untuk dilindungi.(Azzam, 2009: 88)

Akan tetapi, kegiatan doa-doa massal tersebut di tengah pandemi covid 19 sebaiknya dibatasi dan dikurangi. Kita tidak menginginkan bahwa doa-doa massal tidak menolog justru menjadi penyebab penularan wabah covid 19 mungkin dapat dipahami secara logis oleh sebagian kalangan. Bahkan, Indonesia sebagai negara yang berdasarkan kepada Ketuhanan yang Maha Esa, kegiatan doa-doa massal sudah menjadi rutinitas sehari-hari bagi warga negara.

Umat membutuhkan pendekatan khusus dalam melakukan edukasi agar tidak terjadi konflik internal umat dalam satu agama atau antar agama dalam menghadapai wabah covid 19, salah satunya dengan lebih aktif lagi mensosialisasikan gerakan moderasi beragama. Kementerian Agama mengambil peran dalam menghadapi pandemi covid 19 dengan berbagai kebijakan yang tujuan utamanya berdasarkan moderasi beragama. Misalnya, edaran Menteri Agama Nomor: SE. 1 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Protokol Penanganan Covid-19 pada Rumah Ibadah.

Edaran yang berisi tentang pentingnya mencegah penyebaran covid 19 di rumah ibadah dengan mengajak jajaran instansi di bawah Kementerian Agama untuk mensosialisasikan dan mensinergikan edaran tersebut di tengah masyarakat.(Kementerian Agama, 2020:1-2) Edaran tersebut subtansinya mengajarkan masyarakat untuk lebih mengutamakan sikap moderasi dalam menjalankan ajaran- ajaran agama masing-masing. Pada sisi yang lain, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai lembaga independen yang mengayomi umat Islam di Indonesia telah mengeluarkan fatwa-fatwa yang secara langsung dapat menghambat penyebaran wabah.

Meskipun demikian, MUI harus bekerja keras lagi dalam lebih mencerdaskan umat tentang pentingnya konteks moderasi beragama, agar fatwa-fatwa yang dikeluarkan tidak menyisakan konflik di tengah masyarakat bahkan mungkin akan lebih baik lagi jika dapat merangkul semua kalangan sesuai kondisi yang ada. (Gusman, 2020)

Covid 19 memiliki dampak penyebaran yang sangat cepat. Covid 19 dapat menginfeksi sistem pernapasan. Banyak kasus yang menyebabkan infeksi pernapasan ringan seperti flu atau infeksi pernapasan berat seperti infeksi paru-paru. Bahkan, mengakibatkan kematian dan ditangani dengan cara berbeda dengan kematian seperti biasanya.(Team China, 2020: 11) oleh karena itu, gejala awal infeksi dapat menyerupai gejala flu sepeti demam, pilek, batuk kering, sakit tenggorokan dan sakit kepala. Gejala dapat sembuh atau malah meningkat dan memberat. Pada tingkat kematian yang disebabkan oleh covid 19 ini dapat dijumpai di berbagai belahan dunia, tidak luput pula di Indonesia.

By Editor