Teori tes klasik (CTT) adalah teori psikometri yang memungkinkan prediksi hasil tes, seperti kemampuan peserta tes dan kesulitan soal. Charles Spearman dalam Alagumalai (2005) memaparkan konsep tentang CTT pada tahun 1904 dan memperkenalkan konsep skor yang diamati adalah skor-skor yang terdiri dari skor sebenarnya dan kesalahan. Satu-satunya elemen dari hubungan ini yang nyata adalah skor yang diamati, sedangkan skor sebenarnya dan skor kesalahan adalah laten atau tidak dapat diamati secara langsung. Informasi dari skor yang diamati dapat digunakan untuk meningkatkan reliabilitas tes. CTT adalah model pengujian yang relatif sederhana yang banyak digunakan untuk konstruksi dan evaluasi pengujian panjang tetap.

Mardapi (2017) menyatakan bahwa teori tes klasik menggunakan model matematika sederhana yang menunjukkan hubungan antara skor amatan, skor sebenarnya dan skor kesalahan. Berdasarkan model pengukuran, maka dapat dituliskan skor amatan (X) terdiri dari skor sebenarnya (T) dan skor kesalahan (E). Model tersebut dapat ditulis sebagai persamaan sebagai berikut:

X = T + E

Skor sebenarnya pada teori tes klasik adalah skor rata-rata yang diperoleh dari pengulangan tes secara independen dengan menggunakan tes yang sama bersifat teoritis. Hal ini terjadi karena skor ini tidak menunjukkan dengan karakteristik sebenarnya dari peserta tes, kecuali jika tes tersebut memiliki validitas sempurna yaitu bahwa tes tersebut mengukur dengan tepat apa pokok isi yang diukur (Istiyono, 2020).

Berdasarkan berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa konsep teori tes klasik mengacu pada teori psikometri yang dapat memprediksi kemampuan peserta tes dan kesulitan soal. Teori ini secara sederhana menggambarkan hubungan antara skor amatan, skor sebenarnya dan skor kesalahan.

Allen dan Yen dalam Istiyono (2020) menyatakan bahwa terdapat beberapa asumsi dalam teori tes klasik meliputi:

  1. Instrumen yang digunakan hanya untuk mengukur satu dimensi. Teknik statistika yang digunakan untuk mengetahui jumlah dimensi yang diukur adalah analisis faktor.
  2. Tidak terdapat hubungan antara skor murni dan skor kesalahan.
  3. Tidak terdapat hubungan antara kesalahan pengukuran pertama dengan kesalahan pengukuran kedua.
  4. Tidak terdapat hubungan antara skor murni pada pengukuran pertama dengan kesalahan pada pengukuran kedua.
  5. Tidak terdapat hubungan antara skor murni pada pengukuran kedua dengan kesalahan pada pengukuran pertama.
  6. Rata-rata kesalahan pengukuran pada populasi adalah 0.

Teori tes klasik mengembangkan model pengukuran untuk menaksir besarnya parameter kemampuan dan parameter butir (Mardapi, 2017). Parameter kemampuan dinyatakan sebagai jumlah butir yang benar untuk bentuk soal pilihan, atau jumlah skor untuk bentuk uraian. Parameter butir adalah tingkat kesulitan soal, daya beda soal dan dugaan. Lebih lanjut Istiyono (2020) memaparkan tiga parameter butir dalam teori tes klasik yaitu daya beda, indeks kesukaran dan efektivitas distraktor.

Selanjutnya Parameter pada Teori Tes Klasik...

DAFTAR PUSTAKA

Alagumalai, S & Curtis, D. (2005). Applied Rasch Measurement: A Book of Exemplars. Netherland: Springer.

Azwar, S. (2019). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Istiyono, E. (2020). Pengembangan Instrumen Penilaian dan Analisis Hasil Belajar Fisika dengan Teori Tes Klasik dan Modern. Yogyakarta: UNY Press.

Brown, J. (2012). Classical test theory from: The Routledge Handbook of Language Testing Routledge

Mardapi, D. (2017). Pengukuran, Penilaian dan Evaluasi Pendidikan. Yogyakarta: Parama Publishing.

Retnawati, H. (2017). Validitas, Reliabilitas dan Karakteristik Butir. Parama publishing.

Supranata, S. (2004). Analisis Validitas, Reliabilitas dan Interpretasi Hasil Tes. Bandung: Remaja Rosdakarya.

By Editor

Comments are closed.